KOTA JAYAPURA — Pemerintah Kota Jayapura melaksanakan panen perdana padi program cetak sawah rakyat di Kelurahan Koya Timur, Distrik Muara Tami, Jumat (23/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar Papua.
Panen perdana tersebut dipimpin langsung Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo bersama jajaran pemerintah daerah, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Papua, serta para petani setempat.
Dalam keterangannya, Wali Kota Jayapura menegaskan bahwa program cetak sawah rakyat di Distrik Muara Tami merupakan program strategis untuk memperkuat sektor pertanian dan mendukung ketahanan pangan daerah.
“Hari ini kita melaksanakan panen perdana padi yang ditanam tiga bulan lalu di Kelurahan Koya Timur. Ini merupakan bagian dari program nasional ketahanan pangan yang kita dukung di Kota Jayapura,” ujarnya.
Abisai menyebut, saat ini lahan cetak sawah rakyat yang telah disiapkan mencapai 100 hektare. Pemerintah Kota Jayapura juga membuka peluang pengembangan lahan hingga 1.000 hektare melalui kerja sama bersama masyarakat dan petani di wilayah Muara Tami.
“Kalau pengembangan ini bisa mencapai 1.000 hektare, maka akan sangat mendukung program nasional sekaligus membantu memenuhi kebutuhan beras di Kota Jayapura,” katanya.
Menurutnya, hingga kini kebutuhan beras masyarakat Kota Jayapura masih banyak dipasok dari luar daerah. Karena itu, Distrik Muara Tami yang memiliki potensi lahan pertanian cukup luas akan terus dikembangkan sebagai kawasan sentra pangan baru di Kota Jayapura.
Sementara itu, Kepala BBRMP Papua, Aser Rouw memberikan apresiasi terhadap sinergi yang dibangun Pemerintah Kota Jayapura bersama Kementerian Pertanian dalam mendukung program cetak sawah rakyat.
“Kami mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Jayapura yang cukup baik bersinergi dengan Kementerian Pertanian. Saat ini ada 100 hektare lahan cetak sawah yang sedang didorong pengembangannya,” ujar Aser.
Ia optimistis seluruh lahan tersebut dapat ditanami secara bertahap dan mampu mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar Papua.
“Kalau pengembangan sampai 1.000 hektare dapat terealisasi, maka sekitar 10 persen ketergantungan pasokan beras dari luar daerah dapat dikurangi,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah pusat juga akan memberikan dukungan secara bertahap berupa alat dan mesin pertanian, termasuk pembangunan infrastruktur jalan pertanian melalui Kementerian Pertanian.
“Kami akan mendukung data dan perencanaan program ini agar produksi pangan di wilayah ini dapat meningkat secara bertahap,” tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Gerardus Ikanubun menjelaskan bahwa total luas program cetak sawah rakyat di Kota Jayapura mencapai 100 hektare.
Namun demikian, lahan yang siap tanam saat ini baru sekitar 25 hektare, dengan 18,5 hektare di antaranya telah ditanami padi secara bertahap.
“Untuk panen perdana saat ini kurang lebih mencapai lima hektare. Selanjutnya panen akan dilakukan secara berturut-turut dalam satu hingga dua minggu ke depan,” katanya.
Terkait pengelolaan hasil panen, Gerardus mengatakan para petani saat ini masih menjual hasil panen dalam bentuk gabah kepada pedagang perantara karena Bulog Papua belum menerima gabah secara langsung.
“Kami terus berkomunikasi dengan Bulog. Saat ini Bulog Papua belum menerima gabah, sehingga sementara masih dibeli oleh pedagang perantara. Ke depan kami berharap Bulog bisa memfasilitasi penyerapan hasil panen petani,” pungkasnya.













