JAYAPURA – Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura bergerak cepat menangani ratusan pelajar yang mengalami dugaan keracunan usai mengonsumsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre. Seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan, dikerahkan untuk memastikan setiap pasien mendapat pelayanan medis.
‎Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dr. Anton Tony Mote, M.KM., mengatakan penanganan dilakukan secara terpadu karena pasien berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga SMA.
‎Menurutnya, sejak sore hingga dini hari petugas kesehatan menerima kedatangan pasien dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat tim medis menerapkan sistem triase, yakni memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratannya agar mereka yang membutuhkan pertolongan segera bisa langsung ditangani.
‎”Pasien dengan kondisi paling darurat menjadi prioritas utama untuk mendapatkan tindakan medis secepat mungkin,” ujarnya.
‎Layanan awal dipusatkan di Puskesmas Depapre. Namun, seiring meningkatnya jumlah pasien, Dinas Kesehatan membuka pelayanan di delapan puskesmas lain di wilayah Sentani dan sekitarnya agar seluruh Unit Gawat Darurat (UGD) dapat menerima pasien.
‎Koordinasi juga dilakukan dengan sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Yowari, Rumah Sakit Dian Harapan, serta rumah sakit milik Kementerian Kesehatan. Bahkan, rumah sakit kementerian telah menyiapkan sedikitnya 16 tempat tidur untuk pasien yang membutuhkan penanganan dokter spesialis.
‎Dinas Kesehatan memastikan pasien dengan kondisi yang memerlukan penanganan lanjutan telah dievakuasi ke rumah sakit rujukan. Hingga kini, kondisi para pasien masih dapat dikendalikan, termasuk mereka yang mengalami gejala berat.
‎Untuk menjangkau masyarakat di wilayah pesisir, pelayanan kesehatan turut diperluas ke Puskesmas Yokari dan Puskesmas Rafinera. Langkah ini dilakukan agar warga tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke Sentani hanya untuk memperoleh layanan medis.
‎Meski jumlah pasti korban masih dalam proses pendataan, Dinas Kesehatan memperkirakan jumlah pasien telah mencapai ratusan orang dan berpotensi bertambah seiring masuknya laporan dari lapangan.
‎Dalam penanganan keadaan darurat tersebut, Dinas Kesehatan juga mendapat dukungan dari TNI dan Polri, termasuk penyediaan tenda darurat serta fasilitas tambahan di RSUD Yowari untuk menunjang pelayanan kesehatan.
‎Ke depan, RSUD Yowari akan menjadi pusat penanganan pasien sehingga proses pendataan, pemantauan kondisi, hingga pemulangan pasien yang telah dinyatakan pulih dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Sementara itu, pasien yang masih membutuhkan perawatan intensif akan tetap menjalani penanganan sesuai prosedur medis.









