Jayapura, JayaTvPapua.com – Ajang kecantikan Miss Indonesia 2025 mendadak diguncang kontroversi besar. Finalis asal Papua Pegunungan, Merince Kogoya, didiskualifikasi secara sepihak usai beredarnya video lama yang memperlihatkan dirinya mengibarkan bendera Israel.
Keputusan mendadak panitia ini memicu gelombang protes keras, baik dari masyarakat Papua maupun organisasi pegiat HAM. Bahkan, Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM Papua) menggelar jumpa pers di Abepura, Jumat (29/8/2025), mengecam tindakan panitia Miss Indonesia dan MNC Group yang dinilai diskriminatif, intoleran, dan melanggar konstitusi.
Kronologi Diskualifikasi
Merince Kogoya lolos sebagai finalis resmi mewakili Papua Pegunungan melalui jalur seleksi daerah dengan dukungan pemerintah. Ia kemudian mengikuti masa karantina selama 4 bulan bersama finalis lainnya di Jakarta.
Namun, pada 26 Juni 2025, sebuah video lama Merince saat mengibarkan bendera Israel dalam doa komunitas rohani Kristen beredar luas di media sosial. Alih-alih memberi ruang klarifikasi, panitia langsung mencoret namanya dan menggantinya dengan peserta lain dari luar Papua.
Keputusan sepihak ini langsung memantik tuduhan adanya diskriminasi sistematis terhadap finalis asal Papua.
PAK-HAM Papua Angkat Bicara
Dalam pernyataan resminya, PAK-HAM menegaskan kasus Merince bukan sekadar persoalan lomba kecantikan, melainkan soal hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan martabat orang Papua.
“Unggahan itu doa pribadi, bukan politik. Panitia yang langsung mendiskualifikasi tanpa proses pembelaan adalah bentuk diskriminasi terang-terangan. Ini penghinaan terhadap konstitusi dan keberagaman bangsa,” tegas Matius Murib Direktur PAK-HAM-PAPUA
Dalam Jumpa Pers Pihak Keluarga mengumumkan 7 sikap dan tuntutan, di antaranya:
1. Menolak segala bentuk diskriminasi berbasis agama.
2. Menuntut penghormatan terhadap kebebasan beragama sesuai UUD 1945 Pasal 28E.
3. Mendesak Yayasan Miss Indonesia & MNC Group meminta maaf terbuka.
4. Meminta pemulihan nama baik Merince secara publik.
5. Mengevaluasi sistem seleksi Miss Indonesia agar transparan dan adil.
6. Mengajak bangsa Indonesia menjaga toleransi & perdamaian antarumat beragama.
7. Jika diskriminasi terus berlanjut, siap membawa kasus ini ke tingkat nasional maupun internasional.
Keluarga Merince: “Sejak Awal Anak Saya Diperlakukan Tidak Adil”
Tak hanya PAK-HAM, keluarga Merince juga angkat suara. Sang ibu, Yurince Lokbere, mengungkapkan bahwa ketidakadilan sudah dialami anaknya sejak awal seleksi hingga masa karantina.
“Sejak awal, anak saya tidak diberi buku panduan seperti finalis lain. Dia masuk audisi tanpa arah, hanya mengandalkan pertolongan Tuhan,” tutur Yurince dalam jumpa pers.
Selama karantina, Merince juga disebut mendapat perlakuan berbeda, mulai dari konsumsi makanan yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter gizi hingga perlakuan tak adil saat prosesi penyematan selempang.
“Finalis dari barat dan tengah dipanggil maju, tapi anak saya dan peserta dari timur hanya duduk menyaksikan. Itu diskriminasi nyata,” tambahnya.
Merince Kogoya Buka Suara
Dalam kesempatan yang sama, Merince akhirnya bicara langsung kepada publik. Ia menegaskan bahwa tindakannya mengibarkan bendera Israel tidak bermaksud politis.
“Itu doa pribadi, bukan agenda politik. Tapi panitia langsung mencoret nama saya. Sejak awal saya sudah diperlakukan tidak adil, mulai dari tidak diberi buku panduan, diberi makan mie instan dua hari berturut-turut, hingga tidak diajak maju dalam momen selempang. Diskualifikasi ini hanya puncaknya,” ungkap Merince.
Meski kecewa, ia berharap kasus ini bisa membuka mata bangsa bahwa diskriminasi masih terjadi di ajang nasional.
Gelombang Dukungan Publik
Kasus ini menjadi viral di media sosial. Tagar #JusticeForMerince dan #PapuaMelawanDiskriminasi ramai digaungkan netizen yang menilai panitia Miss Indonesia bersikap intoleran dan rasis.
“Indonesia itu negara Pancasila, bukan negara intoleran. Kalau doa saja bisa bikin dicoret, lalu di mana kebebasan beragama kita?” tulis seorang netizen.
Panitia Miss Indonesia Bungkam
Hingga berita ini dirilis, pihak Yayasan Miss Indonesia maupun MNC Group belum memberikan klarifikasi resmi terkait pencoretan Merince. Publik masih menunggu penjelasan terbuka.
Sementara itu, PAK-HAM menegaskan akan mengawal kasus ini hingga tuntas.
“Ini bukan hanya tentang Merince, tapi soal harga diri orang Papua dan masa depan kebebasan beragama di Indonesia,” tutup PAK-HAM Papua.