JAYAPURA – Pemerintah mulai mengungkap hasil awal investigasi terkait insiden keracunan massal yang menimpa ratusan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Temuan sementara menunjukkan adanya dugaan pelanggaran dalam proses penyiapan makanan sebelum didistribusikan kepada para penerima.
‎Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026), Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyampaikan bahwa makanan yang disajikan kepada penerima MBG diduga telah dimasak sejak malam hari sebelum didistribusikan. Jeda waktu yang cukup panjang antara proses memasak dan penyajian dinilai tidak memenuhi prosedur keamanan pangan yang berlaku.
‎Menurutnya, makanan mulai diolah sekitar pukul 19.00 hingga 19.30, kemudian baru disajikan kepada penerima sekitar pukul 11.00 keesokan harinya. Kondisi tersebut diduga menyebabkan kualitas makanan menurun dan meningkatkan risiko berkembangnya bakteri.
‎Selain menyoroti waktu pengolahan, hasil pemeriksaan awal yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menemukan indikasi adanya bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sejumlah sampel makanan yang diperiksa.
‎Bakteri tersebut umumnya muncul akibat kontaminasi yang berkaitan dengan sanitasi yang kurang baik, baik pada bahan makanan, peralatan memasak, maupun proses pengolahan. Karena itu, aspek kebersihan dapur dan standar higienitas kini menjadi fokus utama dalam penyelidikan.
‎Pemerintah memastikan investigasi masih terus berlangsung untuk mengetahui secara pasti sumber kontaminasi yang menyebabkan ratusan warga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Evaluasi menyeluruh terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Depapre juga tengah dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
‎Kasus keracunan yang terjadi pada 4 Agustus 2026 tersebut mengakibatkan lebih dari 200 orang mengalami gangguan kesehatan. Para korban merupakan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis dan sebagian di antaranya harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Jayapura.
‎Hingga kini, pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium lanjutan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut sekaligus menetapkan langkah penanganan dan perbaikan sistem keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Papua.












