JAYAPURA – Limbah hasil pembakaran batu bara dari PLTU Holtekamp akan dimanfaatkan sebagai material pendukung pembangunan Gedung Sekolah Rakyat di Distrik Skouw, Kota Jayapura, yang berada di kawasan perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Papua dan Papua Barat dengan Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Papua, Direktorat Jenderal Prasarana Strategis, Kementerian Pekerjaan Umum.
Penandatanganan berlangsung di PLTU Holtekamp, Jayapura, pada 31 Agustus 2026. Kesepakatan ini menjadi langkah awal kedua institusi dalam mengoptimalkan material hasil samping pembangkitan listrik untuk menunjang pembangunan fasilitas pendidikan di Papua.
MoU ditandatangani oleh Manager PLN UPK Papua dan Papua Barat, Nova Ardyanto, bersama Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Papua, Abdul Hasyim, S.T., M.Si.
Dalam pelaksanaannya, FABA dari PLTU Holtekamp akan digunakan sebagai material subgrade atau lapisan dasar lahan pembangunan Gedung Sekolah Rakyat. Penggunaannya akan tetap mengacu pada kajian dan persyaratan teknis, standar keselamatan konstruksi, perlindungan lingkungan, serta peraturan yang berlaku.
Manager PLN UPK Papua dan Papua Barat, Nova Ardyanto, mengatakan kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi PLN kepada masyarakat tidak berhenti pada penyediaan pasokan listrik.
“Pada momentum Hari Pelanggan Nasional ini, kami ingin menunjukkan bahwa pelayanan PLN tidak hanya diwujudkan melalui keandalan pasokan listrik, tetapi juga melalui kontribusi nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan FABA untuk pembangunan Sekolah Rakyat merupakan salah satu bentuk komitmen tersebut,” ujar Nova.
Menurutnya, pengelolaan FABA secara tepat dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Langkah ini juga sejalan dengan upaya PLN menerapkan kegiatan operasional pembangkitan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Papua, Abdul Hasyim, menyambut baik dukungan PLN terhadap pembangunan fasilitas pendidikan di kawasan perbatasan tersebut.
Ia menegaskan bahwa penggunaan FABA akan dilaksanakan secara terukur dengan mengutamakan kualitas material dan keamanan konstruksi.
“Melalui kerja sama ini, kami berupaya memastikan pemanfaatan FABA dilakukan berdasarkan kajian dan persyaratan teknis yang tepat, dengan tetap memperhatikan aspek kualitas, keselamatan konstruksi, dan lingkungan,” kata Abdul Hasyim.
Ia berharap sinergi antara Kementerian PU dan PLN dapat menunjang pembangunan Gedung Sekolah Rakyat secara efektif serta menghadirkan infrastruktur pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan bagi masyarakat Papua.
Setelah penandatanganan MoU, kedua pihak akan melanjutkan kerja sama melalui koordinasi teknis, penyediaan dan pemanfaatan FABA, serta pemantauan selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Setiap tahapan akan dilakukan sesuai kebutuhan proyek dengan tetap mengedepankan keselamatan, mutu pekerjaan, perlindungan lingkungan, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya membantu pembangunan Sekolah Rakyat, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan FABA secara lebih produktif. Dengan demikian, material hasil samping PLTU Holtekamp dapat memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat.
Bertepatan dengan Hari Pelanggan Nasional 2026, kerja sama tersebut sekaligus memperkuat komitmen PLN UPK Papua dan Papua Barat untuk menghadirkan pelayanan yang memberi nilai tambah bagi pembangunan daerah dan masa depan pendidikan generasi Papua.













