Jayapura, JayaTvPapua.com – Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Jayapura Tahun 2024 menggelar aksi Mimbar Bebas di Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Senin (11/5/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap situasi kemanusiaan yang terjadi di Papua, khususnya peristiwa kekerasan di Kabupaten Dogiyai.
Dalam aksi itu, massa membawa sejumlah poster dan menyampaikan pernyataan sikap terkait berbagai kasus kekerasan yang dinilai terus terjadi di Tanah Papua.
Mereka juga menyerukan pengungkapan serta penegakan hukum atas kasus penembakan yang menewaskan Bripda Jufentus Edowai dan sejumlah warga sipil di Dogiyai.
Dalam aksi ini mereka menyebut, kondisi Papua hingga kini masih dibayangi berbagai persoalan kemanusiaan, mulai dari penangkapan yang dianggap sewenang-wenang, operasi keamanan, hingga jatuhnya korban sipil di sejumlah daerah konflik.
Mahasiswa menilai, situasi tersebut telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang menimbulkan rasa takut dan hilangnya rasa aman bagi masyarakat sipil di Papua. Dalam pernyataan sikapnya, IPMADO menyoroti sejumlah peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2026, di antaranya penangkapan sembilan warga di Sorong, tragedi “Dogiyai Berdarah” pada 31 Maret hingga 2 April 2026, penembakan warga di Puncak Jaya, hingga kasus penembakan terhadap seorang ASN bernama Jems Yohame.
Mereka menegaskan, tragedi “Dogiyai Berdarah” yang menyebabkan lima warga meninggal dunia dan beberapa lainnya luka kritis harus diusut secara transparan dan adil. Para korban disebut merupakan warga sipil yang memiliki hak hidup dan perlindungan hukum sebagaimana dijamin dalam konstitusi dan prinsip hak asasi manusia.
Dalam aksinya, massa juga menyampaikan 21 poin tuntutan kepada pemerintah dan aparat keamanan. Di antaranya mendesak penghentian tindakan represif terhadap warga sipil, meminta investigasi menyeluruh terhadap kasus penembakan di Dogiyai, serta meminta Komnas HAM mengungkap fakta terkait pembunuhan Bripda Jufentus Edowai agar tidak dijadikan alasan untuk melakukan tindakan balasan terhadap masyarakat sipil.
Selain itu, IPMADO mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan perhatian serius terhadap para korban dan keluarga terdampak, termasuk bantuan medis, pendampingan psikologis, hingga pemulangan masyarakat yang mengungsi akibat konflik.
Mahasiswa juga menyerukan agar pendekatan kemanusiaan dan dialog lebih diutamakan dibanding pendekatan militeristik dalam menyelesaikan persoalan di Papua.
Aksi Mimbar Bebas berlangsung di bawah pengawalan aparat keamanan dan menjadi perhatian masyarakat yang melintas di kawasan Lingkaran Abepura.













