Jayapura, JayaTvPapua.com – Konferensi III Analisis Papua Strategis (APS) Tahun 2026 resmi ditutup di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Kotaraja, Kota Jayapura, Sabtu (30/5/2026). Selama dua hari pelaksanaan, forum strategis yang mempertemukan berbagai kalangan dari tingkat daerah, nasional hingga internasional ini menjadi wadah untuk merumuskan arah pembangunan Papua menuju Papua Emas 2041 dan Indonesia Emas 2045.
Mengusung tema “Inovasi Pembangunan Papua Berbasis Etnosains”, konferensi ini menghadirkan akademisi, peneliti, tokoh masyarakat, pemimpin gereja, pemerintah daerah, kementerian, organisasi masyarakat sipil, hingga lembaga internasional yang bersama-sama membahas berbagai tantangan dan peluang pembangunan di Tanah Papua.
Selama pelaksanaan konferensi, peserta terlibat dalam 10 forum diskusi tematik yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, ekonomi, tata kelola pemerintahan, hak asasi manusia, lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat adat hingga peran generasi muda dalam pembangunan Papua.
Dari hasil diskusi tersebut, berbagai rekomendasi dan rancangan program pembangunan berhasil dirumuskan. Seluruh hasil pembahasan nantinya akan disusun menjadi dokumen rekomendasi dan proposal strategis yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan Papua ke depan.
Ketua Umum Analisis Papua Strategis (APS), Laus Deo Calvin Rumayom, dalam sambutannya saat penutupan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga Konferensi APS III dapat berjalan dengan sukses.
Menurutnya, keberhasilan konferensi ini menunjukkan bahwa Papua memiliki banyak sumber daya intelektual dan mitra pembangunan yang siap berkolaborasi untuk menciptakan model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat Papua.
“Konferensi APS III berhasil mempertemukan para akademisi, pelaku kebijakan, regulator, tokoh masyarakat, organisasi sipil hingga lembaga internasional untuk bersama-sama membangun desain pembangunan Papua hari ini dan masa depan. Ini adalah modal besar bagi Papua,” ujarnya.
Laus Deo secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang hadir sebagai pembicara utama dalam konferensi tersebut. Menurutnya, pemaparan Dedi Mulyadi memberikan perspektif baru tentang pentingnya menjaga identitas budaya dan kearifan lokal dalam setiap proses pembangunan.
Ia menilai pesan yang disampaikan Dedi Mulyadi menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga alam, budaya, dan identitas masyarakat adat yang menjadi kekuatan utama Papua.
Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, yang membuka konferensi dengan materi terkait penguatan tata kelola pemerintahan dan pembangunan berbasis hasil yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Laus Deo juga mengucapkan terima kasih kepada Wakil Menteri Hak Asasi Manusia yang telah mempercayakan APS sebagai forum pelaksanaan Uji Publik Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (RUU HAM). Menurutnya, kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa APS semakin diakui sebagai ruang intelektual yang mampu menghimpun berbagai pandangan dari para pakar dan pemangku kepentingan di Papua.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan penghargaan kepada berbagai mitra internasional yang hadir, termasuk Sasakawa Peace Foundation dari Jepang yang selama ini aktif mendukung pengembangan sumber daya manusia Papua dan upaya pembangunan perdamaian.
Sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut, APS akan mengirimkan dua kader muda terbaik dari Papua yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Indonesia untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan di Hiroshima, Jepang, pada Agustus 2026.
Menurut Laus Deo, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya APS dalam menyiapkan generasi muda Papua yang memiliki kapasitas, wawasan global dan kemampuan kepemimpinan untuk terlibat langsung dalam pembangunan daerahnya.
“Kami percaya bahwa masa depan Papua berada di tangan generasi mudanya. Mereka harus kuat, harus bangkit dan memiliki kepercayaan diri untuk mengelola pembangunan serta sumber daya yang dimiliki daerahnya masing-masing. Papua harus dibangun oleh orang Papua dengan kapasitas dan kemampuan yang mereka miliki,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh kepala daerah, pemimpin Papua, tokoh adat, tokoh agama, akademisi dan masyarakat untuk terus membangun kolaborasi demi mempercepat kemajuan Papua.
Sementara itu, Sekretaris Panitia APS III Tahun 2026, Pastor Catto Mauri, menyampaikan bahwa konferensi tahun ini merupakan salah satu pelaksanaan APS terbesar yang pernah digelar.
Menurutnya, antusiasme peserta sangat tinggi dengan jumlah pendaftar mencapai sekitar 700 orang. Namun selama pelaksanaan kegiatan, jumlah peserta yang hadir diperkirakan mendekati 1.000 orang.
“Kami bersyukur karena konferensi ini lahir dari semangat gotong royong dan dukungan banyak pihak. Semua berjalan dengan baik berkat kerja sama berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Papua,” katanya.
Pastor Catto juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh sponsor dan mitra yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk Majelis Rakyat Papua (MRP), pengelola Papua Youth Creative Hub (PYCH), pemerintah daerah, para narasumber, panitia, relawan, serta media massa yang turut menyebarluaskan informasi positif mengenai kegiatan tersebut.
Ia berharap seluruh hasil diskusi yang telah dilakukan selama dua hari dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua dan menjadi referensi penting dalam perumusan kebijakan pembangunan di masa mendatang.
Pada malam penutupan konferensi, peserta secara demokratis dan aklamasi menetapkan Provinsi Papua Pegunungan sebagai tuan rumah Konferensi IV Analisis Papua Strategis (APS) Tahun 2027.
Penetapan tersebut disambut antusias oleh seluruh peserta sebagai bentuk komitmen untuk memperluas ruang dialog, kolaborasi dan partisipasi masyarakat dalam membangun Papua yang maju, mandiri dan sejahtera.
Dengan berakhirnya APS III Tahun 2026 di Kota Jayapura, diharapkan berbagai rekomendasi yang telah dihasilkan tidak hanya menjadi dokumen semata, tetapi dapat diwujudkan dalam program nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat Papua menuju Papua Emas 2041 dan Indonesia Emas 2045.












