Jayapura, JayaTvPapua.com – Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perikanan menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekonomi masyarakat pesisir dengan mendorong pengembangan sektor perikanan budidaya yang bernilai tinggi. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan budidaya kepiting soka (soft shell crab) dan lobster air tawar bagi pembudidaya Orang Asli Papua (OAP) dari sejumlah kampung di Kota Jayapura.
Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal, sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat agar mampu menghasilkan komoditas yang memiliki nilai jual tinggi di pasar modern.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai wilayah pesisir, di antaranya Kampung Nafri, Enggros, hingga kawasan Skouw. Mereka dibekali pengetahuan teknis sekaligus praktik lapangan agar mampu mengembangkan usaha budidaya secara mandiri di kampung masing-masing.
Kepala Seksi Bidang Produksi Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Jayapura, Yoppy Merahabia, mengatakan bahwa pengembangan komoditas budidaya telah dilakukan di Hatchery (Balai Pembenihan) Bufembe, Kampung Nafri, yang dalam bahasa lokal berarti Satu Hati.
“Di balai benih ini kami sudah berjalan sekitar empat tahun mengembangkan kepiting bakau, bandeng, hingga nila salin. Khusus kepiting bakau baru berjalan dua tahun. Benih kepiting diperoleh dari hasil tangkapan di sekitar Teluk Yotefa, kemudian dibesarkan hingga memasuki proses molting atau pergantian kulit untuk menghasilkan kepiting soka,” ujar Yoppy di Jayapura, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, Kota Jayapura memiliki potensi sumber daya pesisir yang sangat besar, namun pemanfaatannya belum optimal karena masih terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai teknik budidaya yang tepat dan berkelanjutan.
Selain kepiting soka, Dinas Perikanan juga memperkenalkan budidaya lobster air tawar sebagai komoditas unggulan baru. Program tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar yang mulai diinisiasi sejak tahun lalu.
“Kami ingin mengenalkan kepada masyarakat bahwa lobster air tawar mudah dibudidayakan dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Pakannya pun sederhana, seperti ikan ruca yang memiliki kandungan protein tinggi,” tambahnya.
Untuk memastikan transfer pengetahuan berjalan maksimal, Dinas Perikanan menghadirkan langsung Muh. Yusri Karim, pakar dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, sebagai pemateri utama pelatihan.
Yusri menjelaskan bahwa pelatihan dirancang secara komprehensif, mulai dari pengenalan dasar kepiting bakau, persyaratan lingkungan, pemilihan benih, manajemen pakan, hingga teknik produksi kepiting bertelur dan kepiting soka.
“Fokus utama kami adalah budidaya kepiting soka. Setelah materi di kelas, peserta langsung mengikuti praktik lapangan menggunakan stok kepiting yang tersedia di balai benih, sehingga mereka memahami seluruh tahapan produksi secara langsung,” jelasnya.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diharapkan mampu melahirkan pembudidaya-pembudidaya baru di kampung-kampung pesisir Kota Jayapura. Dengan meningkatnya kapasitas masyarakat, pemerintah optimistis pasokan kepiting soka dan lobster air tawar dapat dipenuhi secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, rumah makan, hingga pasar modern di Kota Jayapura.
Melalui program ini, Pemerintah Kota Jayapura tidak hanya mendorong peningkatan produksi perikanan, tetapi juga membangun fondasi ekonomi pesisir yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing, dengan Orang Asli Papua sebagai pelaku utama pembangunan sektor perikanan budidaya.













