Neeltje Werimon Putri Papua yang Bawa Nama Jayapura dari Sekolah ke Istana Negara

Kembali dengan kebanggaan Neeltje Deliana Insiowi Werimon bersama 38 Paskibraka Kota Jayapura saat disambut Pemerintah Kota Jayapura setelah menuntaskan tugas dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Prestasinya sebagai pembawa baki pada Upacara Penurunan Bendera di Istana Merdeka menjadi kebanggaan bagi keluarga, sekolah, Kota Jayapura dan Provinsi Papua.(26/8/2026).

Jayapura, JayaTvPapua.com – Sebanyak 38 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Jayapura resmi kembali ke daerah setelah menuntaskan tugas dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepulangan para Paskibraka disambut Pemerintah Kota Jayapura melalui acara penerimaan sekaligus pemberian penghargaan yang berlangsung di Main Hall Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (26/8/2026).

Acara tersebut dipimpin langsung Wali Kota Jayapura Abisai Rollo, didampingi Wakil Wali Kota Rustan Saru serta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Jayapura.

Namun, ada satu sosok yang mendapat perhatian khusus dalam momen tersebut. Ia adalah Neeltje Deliana Insiowi Werimon, putri asal Kota Jayapura yang dipercaya menjadi pembawa baki Bendera Merah Putih pada Upacara Penurunan Bendera di Istana Merdeka, Jakarta.

Bagi Neeltje, kesempatan tersebut bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan.
Siswi SMA Negeri 8 Kota Jayapura itu mengaku awalnya tidak memiliki niat untuk mengikuti seleksi Paskibraka. Dorongan dan motivasi dari para guru akhirnya membuatnya mencoba peruntungan.

Ia mengikuti seleksi tingkat Kota Jayapura dan berhasil lolos. Perjalanannya kemudian berlanjut ke tingkat Provinsi Papua hingga akhirnya mendapat kesempatan mengikuti seleksi dan verifikasi di tingkat pusat.

Setelah melalui proses seleksi selama beberapa hari, nama Neeltje diumumkan sebagai salah satu perwakilan Provinsi Papua untuk Paskibraka tingkat nasional.

Selama menjalani pemusatan latihan, Neeltje tidak langsung ditetapkan sebagai pembawa baki. Ia bersama anggota lainnya menjalani berbagai peran dan latihan secara bergantian.
Hingga akhirnya, menjelang pelaksanaan upacara di Istana Merdeka, Neeltje dipercaya membawa baki pada Upacara Penurunan Bendera.

Perasaan bangga sekaligus gugup menyelimuti dirinya. Sebab, tugas tersebut bukan hanya membawa simbol negara, tetapi juga membawa nama keluarga, sekolah, Kota Jayapura dan Provinsi Papua.

“Bangga karena saya tidak membawa nama sendiri, tetapi membawa nama keluarga, sekolah, provinsi, terutama Kota Jayapura. Pastinya juga gugup karena tanggung jawabnya sangat besar,” ungkap Neeltje.

Rasa gugup semakin terasa ketika ia harus menjalankan tugas di hadapan ribuan pasang mata dan masyarakat Indonesia yang menyaksikan melalui siaran langsung.

Namun, dukungan teman-teman, pelatih dan orang-orang di sekitarnya menjadi kekuatan bagi Neeltje untuk tetap tenang hingga mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
Dari SMA Negeri 8 Jayapura, Menembus Istana
Kisah Neeltje juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMA Negeri 8 Kota Jayapura. Sebagai sekolah yang relatif baru, keberhasilan salah satu siswinya tampil di Istana Merdeka menjadi momentum penting.

Neeltje mengingatkan para pelajar agar tidak merasa minder hanya karena berasal dari sekolah yang belum lama berdiri atau belum dikenal luas.

Menurutnya, kesempatan bisa datang kepada siapa saja selama mau mencoba dan berusaha.

“Jangan pernah minder dengan sekolah lain. Kita masih sekolah baru dan belum menjadi sekolah unggulan. Kesempatan itu bisa datang kapan saja,” pesannya.

Keberhasilan Neeltje sekaligus membawa nama SMA Negeri 8 semakin dikenal masyarakat. Bagi keluarga, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan dan prestasi tidak selalu ditentukan oleh seberapa lama sebuah sekolah berdiri.

Di balik keberhasilan Neeltje, ada kisah haru dari keluarga yang selama kurang lebih 40 hari harus menahan rindu karena tidak dapat berkomunikasi secara bebas dengan sang anak selama menjalani proses pemusatan latihan.

Ibu Neeltje, Stevi Aditya Flores Awom, mengaku sangat gugup ketika menyaksikan putrinya menjalankan tugas sebagai pembawa baki di Istana Merdeka.

Terlebih, gerakan membawa baki hingga menaiki dan menuruni tangga dengan posisi mundur menjadi salah satu bagian yang membuatnya khawatir.

Sebagai orang tua, Stevi hanya bisa berdoa agar seluruh tugas putrinya berjalan lancar dan Neeltje dapat kembali ke Jayapura dengan selamat.

“Yang kami lakukan hanya memberikan support. Jalani saja tanggung jawabnya. Kalau ada yang perlu diperbaiki, kita perbaiki. Kalau memang baik, kita pertahankan dan tingkatkan,” tutur Stevi.

Keluarga juga bersyukur karena Neeltje mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya selama berada jauh dari rumah.
Prestasi Neeltje Jadi Berkah bagi SMA Negeri 8
Bagi keluarga, keberhasilan Neeltje bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi berkah bagi SMA Negeri 8 Kota Jayapura.

Sekolah yang sebelumnya belum banyak dikenal kini semakin mendapat perhatian masyarakat. Bahkan, menurut keluarga, minat terhadap SMA Negeri 8 mulai meningkat dan memasuki angkatan kedua dengan jumlah peminat yang semakin banyak.

Prestasi Neeltje menjadi pesan bahwa sekolah baru pun mampu melahirkan generasi berprestasi apabila diberikan kesempatan, dukungan dan ruang untuk berkembang.

Kepulangan 38 Paskibraka Kota Jayapura pun bukan sekadar akhir dari sebuah tugas. Bagi Neeltje dan rekan-rekannya, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga sekaligus kebanggaan karena telah mengibarkan dan menurunkan Merah Putih dengan penuh kehormatan.

Dari Jayapura menuju Istana Merdeka, Neeltje membawa satu pesan kuat kesempatan bisa datang kepada siapa saja yang berani mencoba.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *