Jayapura, JayaTvPapua.com – Konferensi III Analisis Papua Strategis (APS) resmi digelar di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Kotaraja, Kota Jayapura, Jumat (29/5/2026). Forum strategis berskala nasional dan internasional ini menjadi ruang besar untuk membahas arah pembangunan Papua menuju Papua Emas 2041 dan Indonesia Emas 2045.
Mengusung tema “Inovasi Pembangunan Papua Berbasis Etnosains”, kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, para kepala daerah dari Papua dan Jawa Barat, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, hingga delegasi luar negeri dari Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Ketua Umum Analisis Papua Strategis (APS), Laus Deo Calvin Rumayom, mengatakan konferensi ini menjadi wadah besar untuk menghimpun ide, gagasan, serta solusi nyata bagi pembangunan Papua yang berkelanjutan dan berpijak pada kearifan lokal.
Menurutnya, APS juga membangun jejaring internasional guna memperkuat pembangunan Papua, baik melalui kebijakan fiskal maupun moneter, sekaligus menghadirkan profesional global untuk mendukung inovasi pembangunan di Tanah Papua.
“Tema tahun ini ditetapkan berdasarkan hasil refleksi dan kajian selama setahun terhadap berbagai isu di Papua. Karena itu, konsep etnosains menjadi payung besar dalam seluruh pembahasan konferensi,” ujar Laus.
Ia menjelaskan, konferensi APS III menghadirkan 11 forum strategis, mulai dari forum masyarakat adat, agama, perempuan, ekonomi dan bisnis, pertanian, perkebunan, peternakan, hingga forum komunitas dan konektivitas darat, laut, serta udara.
Tidak hanya menghimpun gagasan, APS juga melakukan pendampingan terhadap komunitas dan pemerintah daerah, termasuk pelatihan resolusi konflik, penguatan inovasi kebijakan kesehatan dan pendidikan, hingga capacity building bagi pemerintah kampung dan daerah di Papua.
Hasil dari seluruh forum nantinya akan dirangkum menjadi rekomendasi resmi yang akan disampaikan kepada Presiden RI dan kementerian terkait sebagai bahan pertimbangan pembangunan Papua ke depan.
APS juga terus mendorong penguatan jejaring ekonomi internasional. Bahkan, setiap tahun organisasi tersebut rutin menggelar pertemuan di Jepang dan Selandia Baru, serta merencanakan Papua Business Forum di Jepang dan Prancis pada tahun depan.
“Kami ingin membuka akses pasar bagi pengusaha Papua, UMKM, dan komoditas lokal agar bisa terkoneksi dengan dunia internasional. Perputaran ekonomi Papua harus diperkuat lewat kolaborasi dan jaringan global,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Panitia APS III, Pastor Catto Mauri, menegaskan pembangunan Papua harus kembali berakar pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat asli Papua.
“Kami berharap Papua tidak hanyut dalam arus modernisasi, tetapi tetap kembali pada nilai-nilai etnosains dan budaya orang asli Papua. Papua harus dibangun berdasarkan karakter dan jati dirinya sendiri,” katanya.
Menurut Pastor Catto, konferensi ini juga menjadi momentum untuk mengangkat nilai spiritual dan identitas Papua sebagai “Tanah Injil”, sehingga pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga kesejahteraan dan karakter masyarakat Papua.
Konferensi APS III berlangsung selama dua hari, 29–30 Mei 2026. Hari pertama diisi dengan opening ceremony dan talkshow bersama para pejabat kementerian dan narasumber nasional yang membahas pembangunan Papua berbasis etnosains.
Sementara pada hari kedua, seluruh peserta akan mengikuti 11 forum diskusi tematik yang fokus membahas solusi atas berbagai persoalan di Papua, mulai dari agama, adat, perempuan, teknologi, bisnis, kelautan perikanan, hingga konektivitas dan pembangunan multimoda.
Dari seluruh rangkaian forum tersebut, diharapkan lahir rekomendasi konkret yang mampu menjadi dasar pembangunan Papua yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Papua.













