Seram Bagian Timur, 21 Oktober 2026 – Bagi Ibu Rosna, air selalu berarti perjalanan. Jeriken kosong di tangan, jalan menuju sungai dan kaki pegunungan, sekitar dua hingga tiga kilometer jauhnya. Perjalanan itu harus ditempuh lagi dan lagi, sebab air yang dibawa pulang hanya cukup untuk kebutuhan sebentar.
Di Desa Madak, Kecamatan Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, kisah seperti ini bukan hanya milik satu keluarga. Banyak ibu rumah tangga menjalani rutinitas yang sama, memikul beban air di atas kesibukan mengurus keluarga.
Ketika kemarau tiba, keadaan makin berat. Sumber air menyusut dan upaya untuk mendapatkannya semakin besar. Bagi keluarga yang tidak sempat mengambil air sendiri, jalan keluarnya adalah membayar orang lain untuk mengambilkannya dari sungai atau pegunungan. Menurut Ibu Rosna, pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp50.000 per hari.
Angka itu terasa besar bagi keluarga di desa. Uang yang semestinya untuk kebutuhan pokok lain harus dialihkan untuk air. Waktu dan tenaga yang habis di jalan membuat pekerjaan dan urusan keluarga harus menunggu.
Persoalannya tidak berhenti pada soal waktu dan biaya. Air yang terbatas membuat kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan pakai sabun dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan, sulit dijalankan secara optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan.
Cerita itu kini mulai berganti bab. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) menghadirkan fasilitas air bersih di Desa Madak. Lewat jaringan distribusi, air kini mengalir dekat dengan rumah warga, dan sekitar 300 kepala keluarga (KK) kini dapat menikmati layanan tersebut. Kehadirannya terasa semakin berarti di tengah kemarau panjang yang membuat banyak wilayah di Seram Bagian Timur kesulitan memperoleh air bersih.
Bagi warga, perubahan itu terasa sampai ke kehidupan sehari-hari. Air bisa diperoleh dengan lebih mudah, lebih dekat, dan lebih terjangkau. Waktu yang dulu habis di perjalanan kini bisa dipakai untuk mengurus keluarga dan beraktivitas. Pengeluaran untuk membeli jasa pengambil air pun tak lagi menjadi beban harian.
Dampaknya juga menyentuh kesehatan keluarga. Dengan air yang tersedia di rumah, warga lebih leluasa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dari mencuci tangan pakai sabun hingga memenuhi kebutuhan sanitasi rumah tangga. Lingkungan yang lebih bersih menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
General Manager PLN UIP MPA, Abdul Haris, mengatakan program ini lahir dari keyakinan bahwa kehadiran PLN harus dirasakan lebih luas daripada sekadar penyediaan listrik.
“Selama ini kita mengenal PLN lewat listrik. Namun bagi kami, tanggung jawab itu juga berarti hadir di tempat masyarakat membutuhkan. Ketika sekitar 300 keluarga di Madak tidak lagi harus berjalan berkilometer membawa jeriken, waktu dan tenaga mereka bisa kembali untuk keluarga dan hal-hal yang lebih produktif. Listrik menerangi, air bersih menghidupkan,” ujar Abdul Haris.
Ia menambahkan, PLN berharap fasilitas ini memberi manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami ingin PLN bertumbuh bersama masyarakat. Air bersih di Madak adalah salah satu wujud komitmen itu,” tambahnya.
Bagi Ibu Rosna dan ratusan keluarga di Madak, keran di dekat rumah bukan sekadar fasilitas. Ia adalah waktu yang kembali, pengeluaran yang berkurang, dan harapan akan kehidupan yang lebih nyaman dan sehat.












